A.
BAYI
BARU LAHIR
e.1 Definisi
Kriteria
fisik bayi baru lahir ( Neonatus ) normal, antara lain sebagai berikut. Lahir
cukup bulan dengan usia kehamilan 37- 42 minggu, berat badan lahir 2500 - 4000
gram atau sesuai masa kehamilan, panjang badan antara 44 - 53 cm, lingkar
kepala melalui diameter biparietal 31-36 cm, skor APGAR antara 7 - 10,
tanpa kelainan kongenital atau trauma
persalinan.
e.2 Asuhan Bayi
Baru Lahir
1. Jaga
kehangatan
2. Bersihkan
jalan nafas ( bila perlu )
3. Keringkan
dan tetap jaga kehangatan
4. Potong
dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira – kira 2 menit* setelah lahir
5. Lakukan
Inisiasi Menyusu Dini dan kontak kulit bayi dengan kulit ibu
6. Beri
salep mata antibiotik tetrasiklin 1 % pada kedua mata
7. Beri
suntikan Vit K1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral setelah
Inisiasi Menyusu Dini
8. Beri
imunisasi Hepatitis B 0,5 mL intramuskular di paha kanan anterolateral, berikan
kira – kira 1 – 2 jam setelah pemberian Vik K1
(
Pelatihan Asuhan Persalinan Normal, 2008 : 122 )
e.3 Perubahan fisik bayi baru lahir
1. Sistem
pernafasan
Rangsangan
gerakan pernafasan pertama terjadi karena tekanan mekanik dari toraks sewaktu
melalui jalan lahir ( stimulasi mekanik ), penurunan Pa O2 dan
kenaikan CO2 merangsang kemoreseptor yang terletak di sinus
karotikus ( stimulasi kimiawi ), rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan
suhu di dalam uterus ( stimulasi sensorik ) dan refleks deflasi hering breur.
2. Suhu
tubuh
a. Evaporasi
Kehilangan panas
yang terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas
tubuh bayi sendiri karena setelah lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan dan
diselimuti. ( Perpindahan panas
dengaaaan cara merubah cairan menjadi uap ).
b. Konduksi
Kehilangan panas
tubuh bayi melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang
dingin. Meja, tempat tidur, atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari
tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila
bayi diletakkan di atas benda benda tersebut.
c. Konveksi
Kehilangan panas
dari tubuh bayi yang terpapar udara sekitar yg lebih dingin. Contoh hilang nya
panas tubuh bayi secara konveksi, ialah membiarkan atau menempatkan bayi baru
lahir dekat jendela dengan hembusan udara ventilasi, membiarkan bayi baru lahir
di ruang yg terpasang kipas angin atau pendingin ruangan.
d. Radiasi
Kehilangan panas
yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda benda yang mempunyai suhu
lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas secara radiasi karena benda benda tersebut
menyerap panas tubuh bayi. ( Pemindahan panas antara 2 objek yg mempunyai suhu
berbeda ).
(
JNPK – KR Asuhan Persalinan Normal, 2008 : 96 )
3. Metabolisme
Bayi baru lahir
harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sehingga energi diperoleh dari metabolism
karbohidrat dan lemak. Pada jam – jam pertama energy didapatkan dari perubahan
karbohidrat. Pada hari kedua, energy berasal dari pembakaran lemak. Setelah
mendapat susu kurang lebih pada hari keenam, pemenuhan kebutuhan energy bayi 60
% didapatkan dari lemak dan 40 % dari karbohidrat.
4. Peredaran
darah
Setelah bayi
lahir, paru akan berkembang mengakibatkan tekanan arteriol dalam paru menurun.
Tekanan dalam jantung kanan turun, sehingga tekanan jantung kiri lebih besar
daripada tekanan jantung kanan yang mengakitakan menutupnya foramen ovale
secara fungsional.
5. Keseimbangan
air dan fungsi ginjal
Tubuh bayi baru
lahir mengandung relatif banyak air dan kadar natrium relative lebih besar dari
kalium karena ruangan ekstraseluler luas. Fungsi ginjal belum sempurna karena
jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa, ketidakseimbangan luas
permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal, serta renal blood flow
relatif kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa.
6. Immunoglobulin
Pada bayi baru
lahir hanya terdapat gama globulin G, sehingga immunologi dari ibu dapat
melalui plasenta karena berat molekulnya kecil. Tetapi bila infeksi yang dapat
melalui plasenta ( lues, toksoplasma, herpes simpleks, dan lain - lain ),
reaksi immunologis dapat terjadi dengan pembentukan sel plasma dan antibody
gamma A, G, dan M.
7. Traktus
Digetivus
Pada neonatus,
traktus digetivus mengandung zat yang berwarna hitam kehijauan yang terdiri
dari mukopolisakarida dan disebut mekonium. Pengeluaran mekonium biasanya dalam
10 jam pertama dan dalam 4 hari biasanya tinja sudah berbentuk dan berwarna
biasa.
8. Hati
Enzim hati belum
aktif benar pada waktu bayi baru lahir, daya detoksifikasi hati pada neonatus
juga belum sempurna, contohnya pemberian obat kloramfenikol dengan dosis lebih
dari 50 mg / kg BB / hari dapat menimbulkan grey
baby syndrome.
9. Keseimbangan
asam basa
Derajat keasaman ( pH )
darah pada waktu lahir rendah, karena glikosis anaerobic. Dalam 24 jam neonatus
telah mengkompensasi asidosis ini.
e.4 Tanda bahaya bayi baru lahir
1.
Tidak mau menyusu atau
memuntahkan semua yang diminum. Ini tanda bayi terkena infeksi berat.
2.
Bayi kejang. Kejang pada bayi
baru lahir kadang sulit dibedakan dengan gerakan normal. Jika melihat
gejala-gerakan yang tidak biasa dan terjadi secara berulang-ulang ( menguap,
mengunyah, mengisap, mata berkedip-kedip, mata mendelik, bola mata
berputar-putar, kaki seperti mengayuh sepeda ) yang tidak berhenti jika bayi
disentuh atau dielus-elus, kemungkinan bayi kejang.
3. Bayi lemah, bergerak hanya jika dipegang.
4.
Sesak napas (60 kali permenit
atau lebih) atau nafas 30 kali per menit atau kurang.
5. Bayi merintih.
6.
Pusar kemerahan sampai dinding
perut. Jika kemerahan sudah sampai ke dinding perut, tandanya sudah infeksi
berat.
7.
Demam ( suhu tubuh bayi lebih
dari 37,5º C ) atau tubuh teraba dingin ( suhu tubuh bayi kurang dari 36,5º C
).
8.
Mata bernanah banyak.
9.
Bayi diare, mata cekung, tidak
sadar, jika kulit perut dicubit akan kembali lambat. Ini tandanya bayi
kekurangan cairan yang berat, bisa menyebabkan kematian.
10. Kulit bayi terlihat kuning. Kuning pada bayi berbahaya jika muncul
pada :
a. Hari pertama (kurang dari 24 jam) setelah lahir.
b. Ditemukan pada umur lebih dari 14 hari.
c.
Kuning sampai ke telapak tangan
atau kaki. ( UNICEF Indonesia : 2012 )
e.5
Refleks pada bayi
|
( tabloid nikita, 2012 )
e.6 Imunisasi
Menurut
Hidayat ( 2005 ), imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan
anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk
mencegah terhadap penyakit tertentu. Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk
merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui
suntikkan, seperti vaksin BCG, DPT, campak dan melaui mulut seperti vaksin
polio.
Jenis – jenis Imunisasi Dasar :
1. Hepatitis
B
Mencegah
penularan Hepatitis B dan kerusakan hati. Sejak tahun 2005 Departemen Kesehatan
memberikan vaksin Hepatitis B – 1 saat lahir, dilanjutkan dengan vaksin
kombinasi pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan. Vaksin Hepatitis B diberikan dengan
dosis 0,5 cc secara intramuscular dalam pada 1/3 paha anterolateral.
2. BCG
( Baccile Calmette Guerin )
Vaksin hidup
yang dibuat dari mycobacterium bovis.
Tujuan imunisasi BCG bukan untuk mencegah penyakit TBC, tetapi mengurangi
resiko TBC berat seperti TBC meningitis, dan TBC miliar. Vaksin BCG diberikan
pada bayi usia kurang dari atau sama dengan 2 bulan dengan dosis 0,05 cc
diberikan secara intracutan di daerah insersio muskulus deltoideus kanan.
3. Anti
Polio
Mencegah
penularan polio yang dapat menyebabkan lumpuh layu pada tungkai dan lengan.
Diberikan 4 x pada bayi usia 1, 2, 3, dan 4 bulan dengan dosis 2 tetes ( 0,1 ml
).
4. DPT
( Difteria Pertusis dan Tetanus )
Mencegah
penularan penyakit Difteri yang menyebabkan penyumbatan jalan nafas, Pertusis
yang menyebabkan batuk rejan ( Batuk 100 hari ), dan Tetanus. Vaksin DPT
diberikan 4 x pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan, namun biasanya vaksin DPT
diberikan dalam bentuk DPT – COMBO yang dilarutkan dengan vaksin Hepatitis B
dengan dosis 0,5 cc.
5. Campak
Mencegah penularan
campak yang dapat mengakibatkan komplikasi radang paru, radang otak dan
kebutaan. Vaksin campak diberikan pada bayi usia 9 bulan dengan dosis 0,5 cc
secara subcutan pada lengan kiri bayi secara subcutan. Efek dari imunisasi
campak ini adalah demam ringan dan kemerahan selama ± 3 hari.
ok...ok...ibu dokter...eh ibu bidan....
BalasHapus