Sabtu, 06 April 2013

Nifas


A.    NIFAS
d.1 Definisi
      Puerperium / nifas adalah masa yg dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandung kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsug selama kira - kira 6 minggu. ( Saifudin, 2006 : 122 ).
      Nifas adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin sehingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil. Masa nifas juga sering disebut periode pemulihan pascapartum berlangsung sekitar 6 minggu ( Varney, 2007 : 958 ).
d.2 Tujuan asuhan masa nifas
1.      Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik atau fisikologi.
2.      Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi konflikasi pada ibu atau bayi.
3.      Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi, dan perawatan bayi sehat.
4.      Memberikan pelayanan keluarga berencana.
( Saifudin, 2006 : 122 )


            d.3 Peran dan tanggung jawab Bidan dalam masa nifas
1.      Memberi dukungan yang terus menerus selama masa nifas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan ibu agar mengurangi ketergantungan fisik dan psikologi selama persalinan dan nifas
2.      Sebagai promotor hubungan yang erat antara ibu dan bayi secara fisik dan psikologis
3.      Mengondisikan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara meningkatkan rasa nyaman. ( Saleha, Siti. Asuhan Kebidanan Masa Nifas, 2009. Jakarta. Salemba Medika : 5 )
d.4 Perubahan fisiologi masa nifas
1.      Uterus
Merupakan reorganisasi dan pengeluaran desidua / endometrium dan eksfoliasi tempat perlekatan plasenta yang ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta perubahan pada lokasi uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokia. Uterus, segera setelah pelahiran bayi, plasenta, dan selaput janin beratnya sekitar 1000 gr. Berat uterus menurun sekitar 500 gr pada akhir minggu pertama pascapartum dan kembali pada berat yang biasanya pada saat tidak hamil, yaitu 70 gr pada minggu kedelapan pascapartum.
2.      Lokia
Merupakan cairan yang berasal dari kavum uteri dari vagina pada masa nifas atau ekstraksi cairan rahim selama masa nifas yang di keluarkan melalui vagina. Lokia mengalami perubahan karena proses involusi, cairan ini berasal dari bekas implantasi bekas melekatnya plasenta.
a.       Lokia rubra
Terjadi hingga hari ke 3 nifas berwarna merah kehitaman yang terdiri dari sel desidua, vernix caseosa, lanugo, sisa mekonium, dan sisa darah.
b.      Lokia sanguilenta
Terjadi pada hari ke 3 hingga hari ke 7 masa nifas yang berwarna merah keputih – putihan.
c.       Lokia serosa
Terjadi pada hari ke 7 hingga hari ke 14 masa nifas yang berwarna kekuningan. Dan yang terakhir adalah lochea alba yang terjadi setelah hari ke 14 masa nifas yang berwarna putih.
3.      Vagina dan perineum
Segera setelah pelahiran, vagina tetap terbuka lebar, mungkin mengalami beberapa derajat edema dan memar, dan celah pada introitus. Setelah satu hingga dua hari pertama pascapartum, tonus otot vagina kembali, celah vagina tidak lebar dan vagina tidak lagi edema. Sekarang vagina menjadi berdinding lunak, lebih besar dari biasanya, dan umumnya longgar. Ukurannya menurun dengan kembalinya rugae vagina sekitar minggu ketiga pascapartum.
4.      Payudara
Laktasi dimulai pada semua wanita dengan perubahan hormon pada saat melahirkan. Apakah wanita itu menyusui atau tidak, dapat mengalami kongesti payudara selama beberapa hari pertama pasca partum karena tubuhnya mempersiapkan untuk memberikan nutrisi kepada bayi. Wanita yang menyusui berspons terhadap menstimulasi bayi yang disusui akan terus melepaskan hormon dan menstimulus alveoli yang memproduksi ASI. Bagi wanita yang memilih memberikan susu formula, involusi jaringan payudara terjadi dengan menghindari stimulasi. ( Varney, 2008 : 960 )

            d.5       Perubahan psikologi ibu pada masa nifas
      Periode ini diekspresikan oleh Reva Rubin yang terjadi pada tiga tahap berikut ini :
1.      Taking in period
Terjadi pada 1 – 2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.
2.      Taking hold period
Berlangsung 3 – 4 hari postpartum, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannnya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitive, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan peraawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu.
3.      Letting go period
Dialami setelah tiba ibu dan bayi di rumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai “seorang ibu” dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya. ( Saleha, Siti. Asuhan Kebidanan Masa Nifas, 2009. Jakarta. Salemba Medika : 64 )
            d.6 Kebutuhan masa nifas
1.      Personal higiene
Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, keberhasilan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga.


2.      Ambulasi dini
Kebijaksanaan agar ibu secepat mungkin Bidan membimbimng ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan.
3.      Istirahat dan tidur
Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan. Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan – kegiatan rumah tangga secara perlahan serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
4.      Eliminasi
Ibu diminta untuk BAK 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih, atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi. Ibu postpartum diharapkan dapat BAB setelah hari kedua postpartum. Jika hari ketiga juga belum BAB, maka perlu diberi obat pencahar per oral atau per rektal.
5.      Latihan dan senam nifas
Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah dan langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas. Diskusikan pentingnya otot – otot perut ibu dan panggul agar kembali normal, karena hal ini akan membuat ibu merasa lebih kuat dan ini juga menjadikan otot perutnya menjadi kuat, sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
6.      Nutrisi dan cairan
Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut :
a.       Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
b.      Makan dnegan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup
c.       Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.
d.      Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya selama 40 hari pascapersalinan
e.       Minum kapsul vit A 200.000 unit agar dapat memberikan vit A kepada bayinya melalui ASI.
7.      Payudara
Beritahu ibu untuk menjaga payudara tetap bersih dan kering dengan menggunakan bra yang menyokong payudara. Apabila putting susu lecet oleskan kolosstrum atau ASI yang keluar sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui.
8.      Aktivitas seksual
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu – satu dua jarinya ke dalam vagina tanpa merasa nyeri, maka ibu aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
9.      Keluarga berencana
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur ovulasi sebelum ia mendapatkan kembali haidnya selama meneteki. ( Saleha, Siti. Asuhan Kebidanan Masa Nifas, 2009. Jakarta. Salemba Medika : 71 )
            d.7 Kunjungan masa nifas
1.      6 – 8 Jam setelah persalinan
a.       Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b.      Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
c.       Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
d.      Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
e.       Pemberian ASI awal
f.       Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia
2.      6 Hari setelah persalinan
a.       Memastikan involusi uteri berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, dan tidak ada bau.
b.      Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
c.       Memastikan ibu mendapatkan mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.
d.      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperhatikan tanda – tanda penyulit
e.       Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan bayi sehari – hari.
3.      2 Minggu setelah persalinan
Sama seperti 6 hari setelah persalinan.
4.      6 Minggu setelah persalinan
a.       Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ia alami atau bayinya.
b.      Memberikan konseling KB secara dini
c.       Menganjurkan / mengajak ibu membawa bayinya ke posyandu atau puskesmas untuk penimbangan dan imunisasi.
( Saleha, Siti. Asuhan Kebidanan Masa Nifas, 2009. Jakarta. Salemba Medika : 84 )
            d.8 Tanda bahaya nifas
      Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa post partum oleh karena itu sangatlah penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya mengenai tanda-tanda bahaya yang menandakan bahwa ia perlu segera mencari bantuan medis, ibu juga perlu mengetahui kemana ia mencari bantuan tersebut.
      Beritahulah ibu jika mengetahui adanya masalah-masalah berikut, maka ia perlu segera menemui bidan:
a.       Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut dua kali dalam setengah jam).
b.      Pengeluaran vagina yang baunya menusuk.
c.       Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung.
d.      Sakit kepala yang terus-menerus, nyeri ulu hati atau masalah penglihatan.
e.       Pembengkakkan diwajah atau di tangan
f.       Demam, muntah, rasa sakit pada waktu buang air kecil atau jika merasa tidak enak badan.
g.      Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan atau terasa sakit.
h.      Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.
i.        Rasa sakit, merah, lunak dan/atau pembengkakkan dikaki.
j.        Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar